WABAH flu burung di Sumatera Utara, kian tak terbendung. Setelah Kabupaten Assahan dan Kabupaten Labuhanbatu, kini wabah yang dapat menimbulkan kepanikan tersebut telah masuk ke Kota Tebingtinggi. Meski baru memasuki di tiga daerah tersebut, tampaknya ‘musibah’ tersebut bakal mengejar ‘rekor’ yang terjadi pada Agusutus 2006. Pada tahun itu, 16 kabupaten/kota di Sumut, terserang wabah flu burung.
Kabupaten/kota endemik flu burung itu pada Agustus 2006 adalah, Deliserdang, Binjai, Dairi, Medan, Tebingtinggi, Langkat, Samosir,dan Serdang Bedagai.
Kemudian Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Mandailing Natal, Humbang Hasundutan, dan Karo.
Wabah yang mengancam nyawa manusia pada tahun 2006 itu, juga menyebabkan anjloknya produksi ternak. Produksi ternak ayam petelur penurunannya, mencapai minus 16,6 persen.
Demikian halnya produksi ternak ayam pedaging juga menurun tajam dengan persentase minus 11,07 persen. Penurunan juga terjadi pada sapi perah (minus 0,41 persen);kerbau (minus 0,39 persen) kuda (minus 9,48 persen); kambing (minus 4,68 persen); babi (minus 2,25 persen); ayamburas (minus 3,74 persen); dan itik (minus 5,42 persen).
Belum ada kontak Berkaitan dengan penyebaran virus flu burung pada unggas di Tebingtinggi, hingga saat ini, belum ada kontak virus kepada manusia. Petugas mengetahui hasilnya positif serangan virus flu burung melalui rapid test.
“Kami masih mencari informasi lebih lanjut mengenai perkembangan virus”, kata Kepala Seksi Veteriner Dinas Peternakan Sumatera Utara Nurdin Lubis, Selasa (12/8).
Nurdin mengatakan, kasus positif serangan flu burung itu terdapat di Kelurahan Deblod Sundoro, Kecamatan Padang Hilir, Tebingtinggi. Daerah ini berdekatan dengan Kabupaten Asahan dan Labuhan Batu yang sebelumnya diketahui kasus positif flu burung. Tebingtinggi sejak 2005 sudah ditemukan kasus positif flu burung pada unggas, katanya.Dari seluruh kasus flu burung yang pernah ada di Sumut, terdapat tujuh korban meninggal dunia pada manusia. “Pemusnahan virus tidak gampang. Dalam waktu tiga sampai empat tahun belum tentu bisa habis”, katanya.
Virus flu burung belakangan ini terjadi di daerah yang sebelumnya menjadi endemis penyebaran virus.
Menurut dia, kecenderungan penyebaran virus flu burung pada bulan April sampai September setiap tahunnya. Fenomena ini, tuturnya, ada hubungannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. Pengawasan Longgar Dia mengakui pengawasan per edaran unggas dari satu daerah ke daerah lain berjalan longgar. Mestinya peredaran unggas ke daerah lain dilengkapi dengan surat dari petugas dinas peternakan.
“Kami membutuhkan aturan pengawasan peredaran unggas yang lebih ketat. Aturan yang selama ini ada hanya tentang peredaran unggas untuk kabupaten dan kota serta antar provinsi. Antar kecamatan dan antar desa belum ada aturanya”, katanya. Kepala sub Dinas P2P (pencegahan penyakit dan penyehatan) Dinas Kesehatan Sumut Surya Darma membena kan hal ini. Hanya saja dia belum mendapatkan informasi adanya kontak dengan manusia.
“Secara detail kami belum banyak menerima informasi. Meski begitu, kami mememinta aparat Dinas Kesehatan Tebing Tinggi tidak terlena. Perlu ada sosialisasi agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Ini sebagai salah satu upaya untuk menghadapi perkembangan virus”, katanya. Belakangan 12 warga Desa Air Batu, Kecamatan Air Batu berstatus terduga flu burung. Akhir pekan lalu Departemen Kesehatan memastikan seluruh pasien itu negatif dari serangan virus flu burung.
Kini sebagian besar pasien sudah kembali ke rumahnya. Hanya pasien berinisial F (7) yang masih menjalani perawatan karena diduga menderita demam berdarah.(red/kom)